KajianSosial. Memahami Peran Teknologi dalam Perubahan Sosial Masyarakat. Seiring perkembangan zaman, Revolusi Industri terjadi pada tahun 1750 - 1850 yang berlangsung selama empat periode (revolusi 1.0 - 4.0). Perubahan besar terjadi di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi, yang berdampak besar pada kondisi Berikutini adalah dampak positif dan negatif perkembangan teknologi yaitu: 1. Bidang informasi dan komunikasi. Dalam bidang informasi dan komunikasi telah terjadi kemajuan yang sangat pesat, beberapa dampak positif yaang kita rasakan adalah sebagai berikut : Mempercepat dalaam mendapatkan informasi yng akurat dan terbaru didunia bagian manapun. Poinyang ditanyakan adalah dampak negatif perubahan sosial berdasarkan ilustrasi. Berdasarkan pada soal, dijelaskan bahwa perkembangan teknologi pada saat ini memungkinkan masyarakat melakukan berbagai kegiatan ekonomi secara daring (online), termasuk kemudahan membeli berbagai barang kebutuhan tanpa perlu keluar rumah, akibatnya menyebabkan masyarakat terdorong untuk terus melakukan E Penggunakan musik dalam upacara adat. 16. Pernyataan yang sesuai mengenai perkembangan teknologi dalam masyarakat adalah . A. Meski ada teknologi sederhana, masyarakat tetap harus bekerja keras untuk menyelesaikan suatu pekerjaan B. Kemajuan teknologi pada era digital setara dengan kemajuan pada era Renaisans* Padadasarnya masyarakat akan terus berubah, baik berubah karena masyarakat itu sendiri maupun karena pengaruh luar. Salah satu fenomena perubahan sosial dalam sistem masyarakat yang dapat dilihat akibat maraknya teknologi komunikasi adalah masyarakat yang cenderung fokus pada ponsel pintar miliknya tanpa menghiraukan keadaan sekitar. zS3xCR5. – Banyak orang menganggap bahwa literasi digital merupakan kecakapan dalam penggunaan internet dan media digital. Meski begitu, ada juga pandangan bahwa penguasaan teknologi adalah kecakapan yang paling utama. Padahal, literasi digital adalah sebuah konsep dan praktik yang tidak hanya menitikberatkan pada kecakapan untuk menguasai pengguna yang memiliki kecakapan literasi digital yang bagus tidak hanya mampu mengoperasikan alat, tetapi juga mampu bermedia digital dengan penuh tanggung jawab. Untuk meningkatkan literasi digital di Indonesia, pemerintah pun meluncurkan Program Literasi Digital Nasional. Pada peluncuran beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. “Saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti kesiapan-kesiapan penggunanya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” ujar Jokowi dalam sambutannya pada peluncuran Program Literasi Digital Nasional, Kamis 20/5/2021. Jokowi juga mengatakan bahwa literasi digital merupakan pekerjaan besar. Pemerintah pun tidak bisa bekerja sendirian. Dengan demikian, lanjutnya, perlu adanya dukungan dari seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat yang melek digital. Ia juga memberikan apresiasi pada seluruh pihak yang terlibat dalam Program Literasi Digital Nasional. “Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain, melakukan kerja-kerja konkret di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” ujar Jokowi. Dalam rangka mendukung Program Literasi Digital Nasional tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informasi Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital Japelidi dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital untuk meluncurkan Seri Modul Literasi Digital. Modul tersebut memiliki fokus pada empat tema besar, yaitu Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Aman Bermedia Digital. Kominfo berharap, dengan adanya seri modul ini, masyarakat Indonesia dapat mengikuti perkembangan dunia digital secara baik, produktif, dan sesuai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara. Adapun sosialisasi dan pendalaman Seri Modul Literasi Digital dilakukan dalam ranah media digital dalam bentuk seri webinar Indonesia MakinCakapDigital yang menjangkau sebanyak 514 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Webinar pertama dengan tema Literasi Digital Bagi Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital” diselenggarakan, Jumat 11/6/2021. Webinar tersebut ditujukan khusus bagi 14 Kabupaten/Kota di wilayah DKI Jakarta dan Banten. Dalam webinar tersebut hadir narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yaitu Dosen Manajemen dan Kebijakan Publik UGM dan IAPA Novi Paramita Dewi, Dosen Universitas Negeri Makassar Citra Rosalyn Anwar, serta Ismita Saputri dan Rizki Ayu Febriana dari Kaizen Room. Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Citra Rosalyn Anwar mengawali pembahasan mengenai digital skills dengan topik “Cakap Digital untuk Pendidik dan Anak Didik”. Citra memaparkan, pemahaman dasar keahlian dalam bermedia digital penting bagi kita. Hal tersebut dapat digunakan untuk mengetahui persebaran pengguna internet yang datang dari berbagai penjuru dunia, dengan ragam usia dan jumlah pengguna internet. Melihat begitu banyak dan beragamnya pengguna internet, lanjutnya, maka tidak heran begitu banyak hoaks bertebaran.“Kiat untuk melawan hoaks adalah dengan memverifikasi terlebih dulu data atau informasi yang telah kita terima, kemudian cek fakta dan data yang terjadi di lapangan, bisa dengan melakukan riset atau membaca dari sumber yang kredibel,”ujar Citra dalam keterangan pers yang diterima Sabtu 12/6/2021. Narasumber berikutnya ialah Ismita Putri yang mengangkat topik “Gerakan Nasional Literasi Digital” terkait digital ethics. Dalam pemaparannya, ia mengatakan bahwa perkembangan teknologi yang sangat pesat memberikan manfaat, seperti mempermudah mendapat informasi secara online dan real time. Menurutnya, internet juga memberikan beberapa kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses berbagai konten yang ada. “Walau begitu, terdapat pula hambatan yang ditemukan dalam bermedia digital, di antaranya adalah kesulitan dalam menggunakan teknologi dan tidak adanya waktu untuk mempelajari teknologi secara lebih baik karena kesibukan kerja,” kata Ismita. Di akhir penjelasannya, ia menegaskan kembali mengenai empat ruang lingkup etika, yaitu kesadaran, integritas, tanggung jawab, dan kebajikan. Novi Paramita Dewi dengan topik “Budaya Bermedia Sosial” menjelaskan bahwa teknologi digital telah memungkinkan terbentuknya budaya yang lebih berjejaring, kolaboratif, dan partisipatif. “Oleh karena itu, literasi digital dan pendidikan karakter amat diperlukan untuk memengaruhi cara berpikir masyarakat dalam memanfaatkan segala arus informasi yang diterapkan,” ujarnya. Dengan demikian, masyarakat dapat memiliki nilai-nilai budaya yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Masyarakat tidak hanya mencontoh budaya dari luar saja dan dapat mempergunakan internet untuk pengembangan budaya nasional,” kata Novi. Terkait digital safety, Rizki Ayu Febriana berbicara mengenai “Literasi Digital bagi Tenaga Pendidik dan Anak didik di Era Digital”. Ia mengingatkan bahwa maraknya aktivitas digital yang dilakukan mengharuskan masyarakat sebagai pengguna untuk peduli terhadap pentingnya memproteksi perangkat digital. “Beberapa cara aman dalam berinternet adalah selalu log out setelah masuk ke akun media sosial, buat susunan password yang kuat dan aman, hanya membuka situs web yang tepercaya, hapus history penelusuran internet, dan meminimalkan penggunaan free WiFi, apalagi saat melakukan transaksi online,” ujar Rizki. Dalam sesi pertanyaan, Ismita pun memberikan tips untuk generasi muda dalam mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, menumbuhkan kesadaran dari diri sendiri merupakan hal yang sangat penting. Caranya dengan menyaring konten yang akan diakses atau hal yang ingin dibagikan ke orang lain. Seri webinar Indonesia MakinCakapDigital terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital. Kominfo pun berharap partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat untuk mengikuti seri tersebut. Rangkaian webinar tersebut akan terus diselenggarakan hingga akhir 2021. Berbagai macam tema yang mendukung kesiapan masyarakat Indonesia dalam bermedia digital secara baik dan etis sudah disiapkan. Para peserta juga akan mendapatkan e-certificate atas keikutsertaan webinar. Untuk info lebih lanjut, silakan pantau akun Instagram Kian hari perkembangan teknologi semakin meroket. Tak tanggung-tanggung, hampir semua aspek kehidupan kini dapat memanfaatkan teknologi. Banyak hal yang perlahan mulai berubah karena kemunculan teknologi, salah satunya adalah kultur masyarakat. Dilihat dari definisinya saja, dalam KBBI teknologi merupakan keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Menurut Henslin yang dipaparkan kembali oleh Ahmad Herdiansyah dalam papernya yang berjudul “Menyikapi Dampak Dari Perkembangan Tekonologi”, istilah teknologi mencakup dua hal, pertama teknologi yang merujuk pada peralatan yaitu unsur yang digunakan untuk menyelesaikan masalah. Kedua, teknologi yang merujuk pada keterampilan atau prosedur yang diperlukan untuk membuat dan menggunakan peralatan yang semakin berkembangKultur masyarakat sendiri maknanya hampir sama dengan budaya. Sederhananya, menurut Selo Soemardjan seorang tokoh pendidikan Indonesia dan Soelaeman Soemardi seorang sosiolog Indonesia, kebudayaan adalah seluruh hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Jadi, semua yang terjadi dimasyarakat dalam bentuk apapun, baik kebiasaan, pola interaksi, karakteristik dan lainnya merupakan sebuah kultur. Berbicara mengenai kultur Indonesia dahulu dan pergeserannya kini, Djoko Suryo seorang guru besar sejarah di Universitas Gadjah Mada sekaligus sejarawan Indonesia sudah pernah membahasnya dalam sesi wawancara yang kemudian dimuat oleh Furqon Ulya Himawan dalam platform E-paper bernama Media Suryo mengatakan bahwa Nusantara dulu memiliki identitas yang unik, kebhinekaan, pluralitas dan multikulturalisme. Kultur Indonesia jauh berbeda dengan budaya Barat, berbeda dalam pengalaman, sistem keyakinan, hierarki, agama, pengertian tentang waktu, hubungan spasial dan masih banyak lagi. Namun Indonesia mampu menyerap dan mengadaptasi elemen dari luar, yang kemudian diolah menjadi konstruksi corak kebudayaan yang lebih berkarakter ke-Indonesiaan. Dalam dunia politikpun, hubungan yang terjalin sangat baik dan saling menghormati. Komunikasi dilandasi satu kepercayaan yang bersifat saling menghargai dan memiliki toleransi yang tinggi. Agama justru tidak dilihat sebagai pembeda, malah sebagai pemersatu masyarakat untuk membangun harmonisasi. Sungguh indah kultur yang beragam di Indonesia. Lantas, bagaimana kondisi kultur Indonesia saat ini?Jelas terjadi pergeseran akibat modernitas dan perkembangan teknologi, yang akhirnya membuat hubungan antar individu kini kurang harmonis. Teknologi canggih gagal menjadi pemersatu komunikasi, tidak bekerjasama dengan apik sebagai media pengikat masyarakat. Hal ini mendorong masyarakat Indonesia menjadi seorang yang egois dan individualis. Menurut Daryanto Setiawan dalam Jurnal Simbolika Nomor 1 Tahun 2018, ada beberapa dampak akibat perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi. Pertama, menciptakan kesenjangan arus informasi antara negara maju dengan negara berkembang. Kedua, menciptakan ketergantungan pada masyarakat. Ketiga, perubahan sistem nilai dan norma, baik yang bersifat konstruktif atau membangun, maupun yang bersifat destruktif atau kemudahan yang sampai pada penyalahgunaan. Contoh ketergantungan pada teknologi dapat kita lihat pada kasus dua remaja yang dimuat oleh CNN Indonesia pada 2019 lalu dimana mereka mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan gim di telepon seluler. Mereka hanya berdiam diri dan sesekali berinteraksi dengan lingkungannya, namun seketika bereaksi ketika melihat telepon genggam. Kini, kita mengemban beban yang cukup berat. Kita harus mengulang kembali literatur sejarah agar paham betul tentang kultur Indonesia. Lakukan penyaringan berulang terhadap perkembangan teknologi, serap hal yang baik lepaskan hal yang buruk. Terakhir, luruskan kembali paradigma kultur Indonesia agar kita tetap menjadi bangsa yang berkebhinekaan.

pernyataan yang sesuai mengenai perkembangan teknologi dalam masyarakat adalah